Keamanan berkendara

MENGENDARAI sepeda motor bagi kebanyakan orang bukanlah perkara sulit. Mereka bisa langsung duduk, memutar kunci kontak, menekan kopling, menginjak pedal persneling, memutar gas, melepas kopling, dan melaju di jalanan. Tapi untuk berkendara dengan baik, benar, dan aman mungkin tidak lebih sepuluh persen dari jumlah pengendara motor di Indonesia yang mampu melakukannya.

Imbasnya adalah tingginya asngka kecelakaan yang diderita dan disebabkan oleh pengendara motor. Bahkan, data Departemen Perhubungan RI menyebutkan sepeda motor merupakan penyumbang terbesar kecelakaan di jalan raya pada 2004. Dari 17.732 kecelakaan di seluruh Indonesia, 14.223 di antaranya melibatkan sepeda motor. Uniknya, pertumbuhan sepeda motor justru makin tinggi menyusul semakin macetnya jalan raya.

Kepala Unit Brigade Motor Polda Metro Jaya, Komisaris Urip Widodo dalam acara Harley Davidson Safety Riding Course Rabu (30/3) mengatakan penyebab tingginya kecelakaan tersebut di antaranya adalah pengetahuan pengendara yang minim, kurang mengenal karakteristik motor yang dikendarai serta tidak mempersiapkan diri secara baik.
Untuk menghindari bertambahnya jumlah korban kecelakaan di jalan raya, M Joel D Mastana dari Harley Davidson dalam kesempatan yang sama memberikan beberapa tips pada wartawan bagaimana berkendara dengan baik.

Pertama, bagi para pengendara sepeda motor mutlak melengkapi diri dengan perlengkapan keselamatan sebelum berkendara. Perlengkapan itu meliputi helm yang sesuai standar keselamatan, jaket, sarung tangan tebal, serta sepatu yang tingginya minimal mampu menutupi mata kaki.

Saat mulai akan berkendara, pastikan ukuran tekanan ban depan dan belakang sesuai. Karena laju sepeda motor yang tidak seimbang akan berbahaya saat melakukan pengereman mendadak.

Kondisi sepeda motor bisa dikatakan prima jika fungsi mekanik yang meliputi mesin, rem, hingga lampu-lampu sempurna, maka tahapan awal untuk berkendara dengan aman sudah terpenuhi.

Tahapan berikut adalah saat berkendara. Kendala yang biasa ditemui para pengendara motor adalah saat melakukan manuver di tikungan. Untuk menikung, tidak hanya memutar setang ke arah yang dituju atau mencondongkan badan ke kiri atau ke kanan.

Menurut Joel yang juga instruktur Tim Harley Davidson Polda Metro Jaya, pengendara harus memosisikan sepeda motor dengan mempertimbangkan lebar motor. Ini bertujuan agar pengendara saat menikung tetap mampu melihat belokan yang dituju.
Pilih titik belok khayal sedekat mungkin dengan belokan untuk menjaga tetap vertikal sejauh mungkin.

Menjelang tikungan, kurangi kecepatan dengan mulai mengerem. Pindahkan persneling dengan memilih gigi yang lebih rendah guna menghindari pindah gigi di tengah-tengah tikungan. Gunakan rem, tepat sebelum sampai di titik belokan.
Akhiri pengereman sampai kecepatan yang cukup rendah dan pada saat tiba di titik belokan, injak kuat-kuat pedal kaki pada sisi ke arah tujuan belokan sambil membanting kemudi secepat mungkin dengan tetap menjaga posisi kepala tetap horizontal.
Gunakan gas secara merata, lembut, dan konstan selama menikung. Ikuti garis luar tikungan sampai menemukan titik luar. Saat posisi kendaraan mulai tegak, baru gas dapat kembali ditambah.

Kendala lain yang sering ditemui adalah saat melakukan pengereman. Masih banyak para pengendara yang menggunakan rem belakang lebih banyak dibandingkan rem depan. Padahal, dengan cara tersebut, sepeda motor dapat mengalami sliding yang berakibat fatal bagi pengendaranya.

Dalam proses pengereman mendadak atau darurat, gunakan rem depan dan tekan habis tuas kopling (bagi motor yang menggunakan). Gunakan rem belakang segera setelah rem depan. Hal ini untuk menekan gaya gravitasi yang dihasilkan dari gerakan motor.

Tempelkan lutut pada tangki atau tekan kaki pada foot step guna menahan laju tubuh ke arah depan. Kurangi gigi sambil tetap menggenggam tuas kopling agar mesin dapat membantu proses pengereman.

Memang dalam praktiknya, tidak semudah yang disampaikan. Karena untuk mengubah kebiasaan yang mungkin sudah bertahun-tahun dilakukan itu bukan perkara gampang. Tapi jika tidak sekarang, kapan lagi kita melakukan teknik berkendara dengan benar dan aman?

Published in: on Desember 21, 2009 at 11:24 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://misbahudinwahid.wordpress.com/2009/12/21/55/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. seepp,, setuju baget..
    keamanan dalam berkendaraan emang penting baget..

    • mknya klo nti w jd presiden w bkl perketat tu proses pembuatan SIM n g lupa jg para sopir angkutan umum itu perlu bet di training…biar g ugal-ugalan… betul tidaaaak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: